Pernah nggak sih kamu baca sebuah tulisan yang sebenarnya topiknya menarik, tapi rasanya capek banget buat diikutin? Baru satu paragraf aja sudah pengin berhenti. Kalimatnya panjang banget, muter-muter, dan intinya baru ketemu entah di mana. Nah, itu yang sering disebut tulisan bertele-tele.
Masalahnya, banyak orang—termasuk kita mungkin—tanpa sadar sering menulis seperti itu. Niatnya mau terlihat pintar, mau lengkap, atau takut ada yang kurang. Akhirnya semua dimasukkan, semua dijelaskan panjang lebar, sampai pembaca malah bingung sendiri.
Padahal, tulisan yang bagus itu bukan yang panjang, tapi yang jelas dan enak dibaca. Jadi, gimana caranya supaya tulisan kita nggak bertele-tele? Yuk, kita bahas satu per satu dengan santai.
1. Tahu Dulu Apa yang Mau Disampaikan
Kesalahan paling umum adalah menulis tanpa benar-benar tahu inti yang mau disampaikan. Akhirnya tulisan melebar ke mana-mana. Ibarat ngobrol, kamu mau cerita soal pengalaman naik gunung, tapi malah jadi bahas cuaca, makanan, sepatu, sampai cerita teman yang nggak jadi ikut. Ujung-ujungnya orang lupa kamu tadi mau cerita apa.
Sebelum mulai nulis, coba jawab satu pertanyaan sederhana: “Inti tulisan ini apa?”
Kalau bisa diringkas dalam satu atau dua kalimat, berarti kamu sudah punya pegangan. Setiap kali mulai melebar, balik lagi ke inti itu. Tanyakan ke diri sendiri, “Bagian ini benar-benar mendukung inti tulisan nggak?”
Kalau jawabannya nggak, ya sudah, buang saja.
2. Hindari Kalimat yang Kepanjangan
Kalimat panjang bukan berarti salah. Tapi kalau satu kalimat isinya sampai tiga atau empat gagasan berbeda, pembaca pasti ngos-ngosan.
Contoh sederhana:
“Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan berbagai macam tantangan dan permasalahan yang datang silih berganti tanpa bisa kita prediksi sebelumnya, kita sebagai individu yang hidup di tengah masyarakat tentu saja dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat agar tidak tertinggal.”
Capek bacanya, kan?
Padahal bisa dipersingkat jadi:
“Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan, kita harus cepat beradaptasi agar tidak tertinggal.”
Maknanya tetap sama, tapi jauh lebih enak dibaca. Intinya, satu kalimat idealnya menyampaikan satu gagasan utama. Kalau mulai terasa kepanjangan, coba pecah jadi dua kalimat.
3. Kurangi Kata-kata yang Sebenarnya Tidak Perlu
Kadang kita menambahkan kata-kata hanya supaya terdengar lebih resmi atau lebih “wah”. Padahal, tanpa kata-kata itu pun maknanya tetap sama.
Misalnya:
“Pada dasarnya” sering bisa dihapus.
“Sebenarnya” juga sering nggak perlu.
“Yang mana” sering bisa diganti atau bahkan dihilangkan.
Coba biasakan setelah menulis satu paragraf, baca lagi dan coret kata-kata yang nggak terlalu penting. Anggap saja kamu lagi beres-beres kamar. Yang nggak kepakai, keluarin.
Semakin bersih tulisan dari kata mubazir, semakin tajam pesannya.
4. Jangan Takut Menghapus
Banyak orang susah banget menghapus kalimat yang sudah ditulis. Rasanya sayang. Padahal, kemampuan mengedit itu sama pentingnya dengan kemampuan menulis.
Anggap saja draft pertama itu seperti adonan kasar. Belum rapi, belum halus. Tugas kamu berikutnya adalah merapikan. Kalau ada bagian yang berulang, potong. Kalau ada penjelasan yang terlalu panjang, ringkas.
Ingat, pembaca tidak tahu bagian mana yang kamu hapus. Mereka hanya membaca hasil akhirnya. Jadi jangan ragu buat mengorbankan kalimat yang tidak memperkuat tulisan.
5. Hindari Pengulangan Ide yang Sama
Kadang kita merasa perlu mengulang ide supaya pembaca benar-benar paham. Tapi kalau caranya hanya dengan mengulang kalimat yang sama dengan sedikit variasi, itu malah bikin bosan.
Contohnya:
“Kita harus disiplin dalam bekerja. Disiplin sangat penting agar pekerjaan selesai tepat waktu. Tanpa disiplin, pekerjaan bisa terbengkalai karena kurangnya sikap disiplin.”
Cukup satu atau dua kalimat saja sebenarnya sudah cukup.
Kalau memang ingin menegaskan, tambahkan contoh atau sudut pandang baru, bukan sekadar mengulang kata yang sama.
6. Gunakan Bahasa yang Sederhana
Tulisan bertele-tele sering muncul karena kita terlalu memaksakan bahasa yang rumit. Padahal, bahasa sederhana justru lebih kuat.
Misalnya daripada menulis:
“Implementasi dari strategi tersebut membutuhkan adanya sinergi yang optimal antar pihak terkait.”
Kita bisa tulis:
“Strategi itu butuh kerja sama yang baik dari semua pihak.”
Lebih mudah dipahami, kan?
Bahasa sederhana bukan berarti dangkal. Justru butuh kejelian supaya tetap padat dan jelas tanpa harus ribet.
7. Bayangkan Kamu Sedang Ngobrol
Coba bayangkan kamu menjelaskan topik itu ke teman dekat. Pasti kamu akan langsung ke intinya, tanpa banyak muter. Nah, pakai gaya itu saat menulis.
Tulisan yang terasa seperti ngobrol biasanya lebih ringkas dan mengalir. Kamu nggak akan tiba-tiba pakai istilah yang terlalu berat kecuali memang perlu.
Cara ini juga bikin tulisan terasa lebih hidup dan nggak kaku.
8. Baca Keras-keras Tulisanmu
Ini trik sederhana tapi ampuh. Setelah selesai menulis, coba baca keras-keras. Kalau kamu sendiri merasa kehabisan napas atau bingung dengan kalimatmu, berarti pembaca juga akan merasakan hal yang sama.
Biasanya saat dibaca keras, kita lebih sadar mana bagian yang berputar-putar atau terlalu panjang. Dari situ, kamu bisa langsung potong dan perbaiki.
9. Tentukan Batas Panjang Tulisan
Kadang tulisan jadi bertele-tele karena kita tidak punya batas. Coba tentukan dari awal, misalnya 800 atau 1000 kata. Dengan batas itu, kamu akan lebih selektif memilih mana yang benar-benar penting.
Batasan justru membantu kita fokus. Kita jadi berpikir, “Kalau ruangnya terbatas, apa yang paling penting untuk disampaikan?”
Itu akan otomatis membuat tulisan lebih padat.
10. Ingat Tujuan Utama: Dipahami, Bukan Dipuji
Terakhir, ini yang paling penting. Tujuan menulis adalah supaya pesan sampai ke pembaca. Bukan supaya terlihat paling pintar atau paling rumit.
Tulisan yang jelas dan to the point jauh lebih dihargai daripada tulisan panjang yang bikin orang mengernyit. Pembaca zaman sekarang juga cenderung cepat bosan. Kalau dalam beberapa paragraf pertama mereka belum menangkap arah tulisan, kemungkinan besar mereka akan berhenti membaca.
Jadi, fokuslah pada kejelasan. Kalau satu kalimat sudah cukup, jangan tambah dua lagi. Kalau satu contoh sudah kuat, tidak perlu lima.
Menghindari tulisan yang bertele-tele memang butuh latihan. Tidak bisa langsung sempurna dalam satu atau dua kali menulis. Tapi semakin sering kamu mengedit dan menyederhanakan tulisan, semakin peka kamu terhadap bagian yang tidak perlu.
Anggap saja menulis itu seperti memasak. Bumbu yang pas bikin masakan enak. Tapi kalau kebanyakan, rasanya malah aneh. Begitu juga dengan kata-kata. Gunakan secukupnya.
Pada akhirnya, tulisan yang baik bukan yang paling panjang, tapi yang paling jelas. Dan percaya deh, pembaca akan lebih berterima kasih pada tulisan yang langsung ke inti, jujur, dan tidak berputar-putar.
Jadi, mulai sekarang, yuk biasakan menulis lebih ringkas, lebih tajam, dan lebih sadar. Karena kadang, yang sederhana justru paling kena.

0 Komentar