Banyak orang yang baru mulai belajar menulis sering bingung: sebenarnya lebih enak mulai dari fiksi atau nonfiksi?
Ada yang bilang fiksi lebih bebas karena bisa mengarang apa saja. Ada juga yang bilang nonfiksi lebih mudah karena tinggal menulis fakta dan pengalaman.
Padahal, dua-duanya punya tantangan sendiri. Supaya kamu nggak bingung lagi, yuk kita bahas perbedaan menulis fiksi dan nonfiksi dengan bahasa yang santai dan gampang dipahami.
Apa Itu Menulis Fiksi?
Fiksi adalah tulisan yang berdasarkan imajinasi. Ceritanya bisa dibuat sendiri, tokohnya bisa rekaan, dan alurnya bisa kamu atur sesuka hati.
Contohnya:
Cerpen
Novel
Dongeng
Cerita fantasi
Misalnya novel Harry Potter and the Philosopher's Stone karya J. K. Rowling**. Cerita tentang dunia sihir itu murni hasil imajinasi, walaupun dibangun dengan detail yang terasa nyata.
Di Indonesia, ada juga novel seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hirata**. Walaupun terinspirasi dari kisah nyata, cara penyampaiannya tetap dibungkus dalam bentuk cerita yang hidup dan penuh emosi.
Intinya, fiksi fokus pada cerita dan imajinasi.
Apa Itu Menulis Nonfiksi?
Nonfiksi adalah tulisan yang berdasarkan fakta, data, atau pengalaman nyata.
Contohnya:
Artikel
Esai
Buku motivasi
Biografi
Opini
Misalnya buku Atomic Habits karya James Clear**. Buku itu membahas kebiasaan berdasarkan penelitian dan pengalaman nyata, bukan cerita khayalan.
Nonfiksi biasanya bertujuan untuk:
Memberi informasi
Menjelaskan sesuatu
Memberi solusi
Mengedukasi pembaca
Kalau fiksi mengajak pembaca masuk ke dunia cerita, nonfiksi mengajak pembaca memahami kenyataan.
Perbedaan Utama Fiksi dan Nonfiksi
Sekarang kita masuk ke perbedaannya secara lebih jelas.
1. Sumber Cerita
Fiksi:
Berasal dari imajinasi penulis. Kamu bebas membuat dunia sendiri, aturan sendiri, bahkan karakter dengan kekuatan super.
Nonfiksi:
Berasal dari fakta, pengalaman nyata, atau data. Tidak bisa asal mengarang.
Kalau kamu suka berkhayal dan membangun cerita, mungkin fiksi terasa lebih menyenangkan. Tapi kalau kamu suka menjelaskan dan berbagi pengalaman nyata, nonfiksi bisa jadi pilihan.
2. Tujuan Penulisan
Fiksi biasanya bertujuan untuk:
Menghibur
Menggugah emosi
Membawa pesan lewat cerita
Nonfiksi biasanya bertujuan untuk:
Memberi informasi
Memberi solusi
Mengajak berpikir
Walaupun begitu, fiksi juga bisa mengandung pelajaran hidup, dan nonfiksi juga bisa ditulis dengan cara yang menghibur. Jadi sebenarnya tidak hitam putih.
3. Struktur Tulisan
Fiksi biasanya punya struktur seperti:
Perkenalan tokoh
Muncul konflik
Klimaks
Penyelesaian
Alurnya seperti cerita yang terus bergerak.
Nonfiksi biasanya lebih terstruktur dan langsung ke poin. Misalnya:
Pembukaan
Penjelasan masalah
Solusi atau pembahasan
Kesimpulan
Kalau kamu tipe orang yang suka alur cerita dan karakter, fiksi mungkin terasa lebih hidup. Tapi kalau kamu suka menulis dengan poin-poin yang jelas dan runtut, nonfiksi bisa lebih nyaman.
4. Tantangan yang Dihadapi
Menulis fiksi tidak semudah kelihatannya. Tantangannya antara lain:
Membuat karakter yang terasa nyata
Menyusun alur yang tidak membosankan
Menjaga konsistensi cerita
Menghidupkan dialog
Banyak orang mengira fiksi gampang karena “tinggal mengarang”. Padahal membuat cerita yang masuk akal dan menyentuh itu butuh latihan.
Sementara itu, menulis nonfiksi juga punya tantangan:
Harus akurat
Tidak boleh asal klaim
Perlu riset
Harus jelas dan tidak bertele-tele
Kalau menulis artikel atau buku motivasi, kamu harus memastikan apa yang kamu tulis benar dan bisa dipertanggungjawabkan.
5. Kebebasan dalam Menulis
Fiksi memberi kebebasan lebih besar. Kamu bisa:
Mengubah alur sesuka hati
Membuat plot twist
Membunuh atau menghidupkan tokoh
Nonfiksi lebih terbatas karena terikat fakta. Tapi bukan berarti kaku. Kamu tetap bisa kreatif dalam cara menyampaikan.
Misalnya, artikel nonfiksi bisa ditulis dengan gaya santai, pakai contoh sehari-hari, bahkan storytelling ringan.
Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?
Jawabannya tergantung kamu.
Coba tanya ke diri sendiri:
Apakah kamu lebih suka bercerita atau menjelaskan?
Apakah kamu lebih nyaman berimajinasi atau berbagi pengalaman nyata?
Apakah kamu suka membuat karakter dan dialog?
Kalau kamu sering membayangkan adegan, tokoh, dan cerita di kepala, mungkin fiksi cocok.
Kalau kamu sering ingin berbagi tips, pengalaman, atau opini tentang suatu hal, mungkin nonfiksi lebih pas.
Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih keren. Dua-duanya sama-sama bernilai.
Bolehkah Mencoba Keduanya?
Tentu saja boleh.
Banyak penulis memulai dari nonfiksi, lalu mencoba fiksi. Ada juga yang sebaliknya.
Bahkan beberapa tulisan bisa menggabungkan dua unsur ini. Misalnya:
Buku pengembangan diri yang memakai cerita fiksi sebagai contoh
Novel yang terinspirasi dari pengalaman nyata
Semakin banyak kamu mencoba, semakin kamu tahu gaya mana yang paling nyaman.
Tips Memulai Menulis Fiksi
Kalau ingin mencoba fiksi:
Mulai dari cerita pendek dulu.
Fokus pada satu konflik sederhana.
Buat karakter yang punya keinginan atau masalah.
Jangan terlalu memikirkan sempurna di awal.
Yang penting ceritanya selesai dulu. Nanti bisa diedit.
Tips Memulai Menulis Nonfiksi
Kalau ingin mencoba nonfiksi:
Pilih topik yang kamu pahami.
Buat kerangka sebelum menulis.
Gunakan bahasa sederhana.
Tambahkan contoh supaya tidak terasa kaku.
Nonfiksi yang baik bukan yang terlihat paling pintar, tapi yang paling mudah dipahami.
Kesimpulan
Perbedaan menulis fiksi dan nonfiksi untuk pemula sebenarnya cukup jelas.
Fiksi:
Berdasarkan imajinasi
Fokus pada cerita dan emosi
Punya alur dan karakter
Nonfiksi:
Berdasarkan fakta dan pengalaman nyata
Fokus pada informasi dan solusi
Lebih terstruktur dan langsung ke poin
Keduanya punya tantangan dan kelebihan masing-masing.
Yang terpenting bukan memilih mana yang lebih hebat, tapi mana yang paling membuatmu semangat menulis. Karena tanpa semangat dan konsistensi, baik fiksi maupun nonfiksi akan sulit berkembang.
Jadi kalau kamu masih pemula, tidak perlu terlalu banyak berpikir. Coba saja dulu. Tulis apa yang paling ingin kamu tulis.
Dari situ, kamu akan menemukan sendiri jalanmu sebagai penulis.
.png)
0 Komentar