Menjadi penulis itu kelihatannya mudah. Tinggal duduk, buka laptop, lalu tulis apa yang ada di kepala. Tapi kenyataannya, banyak penulis pemula yang merasa buntu, tidak percaya diri, atau bahkan berhenti di tengah jalan.
Kalau kamu sedang belajar menulis, tenang saja. Hampir semua penulis pernah melakukan kesalahan yang sama di awal. Yang penting bukan menghindari kesalahan sepenuhnya, tapi belajar dan memperbaikinya.
Nah, berikut ini 7 kesalahan umum penulis pemula dan cara menghindarinya.
1. Terlalu Banyak Berpikir, Terlalu Sedikit Menulis
Banyak penulis pemula sibuk memikirkan ide yang “sempurna”. Mereka takut tulisannya jelek, takut salah, takut tidak ada yang suka. Akhirnya? Tidak jadi menulis.
Padahal, tulisan pertama memang jarang langsung bagus. Bahkan penulis hebat pun melakukan revisi berkali-kali.
Cara menghindarinya:
Tulis dulu, edit belakangan.
Jangan tunggu mood datang.
Pasang target kecil, misalnya 300–500 kata per hari.
Ingat, tulisan jelek masih bisa diperbaiki. Tapi kalau tidak ditulis, tidak ada yang bisa diperbaiki.
2. Terlalu Banyak Menjelaskan (Overexplaining)
Penulis pemula sering merasa harus menjelaskan semuanya secara detail. Akibatnya, tulisan jadi panjang, berputar-putar, dan melelahkan dibaca.
Pembaca sebenarnya cukup pintar untuk memahami maksud tulisan tanpa harus dijelaskan berulang-ulang.
Cara menghindarinya:
Gunakan kalimat sederhana.
Hindari mengulang poin yang sama.
Setelah selesai menulis, baca ulang dan potong bagian yang tidak perlu.
Kalimat yang singkat dan jelas biasanya lebih kuat daripada paragraf panjang yang bertele-tele.
3. Terlalu Ingin Terdengar Pintar
Kadang penulis pemula menggunakan kata-kata rumit supaya terlihat cerdas. Padahal, tulisan yang bagus bukan yang paling rumit, tapi yang paling mudah dipahami.
Kalau pembaca harus membuka kamus setiap dua kalimat, mereka bisa bosan.
Cara menghindarinya:
Gunakan bahasa sehari-hari.
Bayangkan kamu sedang menjelaskan ke teman.
Utamakan kejelasan, bukan kerumitan.
Tulisan yang sederhana bukan berarti bodoh. Justru sering kali lebih kuat dan mengena.
4. Tidak Punya Struktur yang Jelas
Tulisan tanpa struktur itu seperti cerita tanpa arah. Pembaca jadi bingung, “Ini sebenarnya mau bahas apa, sih?”
Penulis pemula sering langsung menulis tanpa membuat kerangka. Akibatnya, isi tulisan loncat-loncat.
Cara menghindarinya:
Buat outline sederhana sebelum menulis.
Tentukan pembuka, isi, dan penutup.
Pastikan setiap paragraf punya satu ide utama.
Struktur membantu tulisan terasa lebih rapi dan enak dibaca.
5. Terlalu Cepat Menyerah
Baru kirim tulisan sekali, lalu ditolak. Langsung merasa tidak berbakat.
Padahal, penolakan adalah hal yang biasa di dunia menulis. Bahkan banyak penulis terkenal juga pernah mengalami penolakan berkali-kali sebelum sukses.
Contohnya, novel Harry Potter and the Philosopher's Stone karya J. K. Rowling sempat ditolak oleh beberapa penerbit sebelum akhirnya diterbitkan dan menjadi sangat populer di seluruh dunia.
Kalau penulis sebesar itu saja pernah ditolak, apalagi kita yang masih belajar.
Cara menghindarinya:
Anggap kritik sebagai masukan, bukan serangan.
Terus kirim karya ke tempat lain.
Fokus memperbaiki kualitas tulisan.
Kegagalan bukan tanda berhenti. Itu bagian dari proses.
6. Tidak Mau Revisi
Ada juga penulis pemula yang terlalu sayang dengan tulisannya. Mereka merasa tulisannya sudah bagus dan tidak perlu diubah.
Padahal, revisi adalah bagian penting dari proses menulis. Tulisan pertama biasanya masih kasar dan butuh dirapikan.
Cara menghindarinya:
Diamkan tulisan 1–2 hari sebelum dibaca ulang.
Baca dengan sudut pandang pembaca, bukan penulis.
Minta teman membaca dan memberi masukan.
Sering kali, setelah diedit, tulisan bisa jauh lebih kuat dan lebih jelas.
7. Membandingkan Diri dengan Penulis Lain
Ini kesalahan yang paling sering terjadi. Penulis pemula membaca karya penulis favorit, lalu merasa minder.
“Kenapa tulisanku tidak sebagus itu?”
Padahal, kamu sedang membandingkan proses awalmu dengan hasil akhir orang lain. Itu tidak adil.
Misalnya, kalau kamu membaca karya penulis terkenal seperti Tere Liye, tentu tulisannya sudah matang karena bertahun-tahun latihan. Kamu tidak melihat bagaimana proses dan revisi yang dia lakukan di awal kariernya.
Cara menghindarinya:
Bandingkan dirimu dengan dirimu yang kemarin.
Fokus pada perkembangan, bukan kesempurnaan.
Nikmati proses belajar.
Setiap penulis punya gaya dan waktunya masing-masing.
Kesimpulan
Menjadi penulis itu bukan soal bakat semata. Lebih banyak soal latihan, konsistensi, dan kemauan untuk belajar.
Kesalahan seperti:
Terlalu banyak berpikir
Overexplaining
Ingin terdengar pintar
Tidak punya struktur
Mudah menyerah
Tidak mau revisi
Sering membandingkan diri
Itu semua wajar. Hampir semua penulis pernah mengalaminya.
Yang membedakan penulis yang berkembang dan yang berhenti adalah satu hal: mereka tetap menulis meskipun merasa belum sempurna.
Jadi, kalau kamu sedang belajar menulis dan merasa banyak kekurangan, santai saja. Itu tanda kamu sedang berproses.
Tulis saja dulu. Perbaiki nanti.
Yang penting, jangan berhenti. ✍️

0 Komentar