Banyak orang mikir menulis itu soal inspirasi. Duduk, ngetik, selesai.
Padahal kenyataannya?
Tulisan yang enak dibaca itu biasanya bukan hasil sekali jadi. Tapi hasil ditulis, ditinggal, lalu diedit dengan kejam tapi sadar diri.
Kalau kamu masih pemula, editing itu bukan musuh. Justru itu senjata utama kamu.
Dan tenang — kita nggak akan bahas teori ribet. Kita bahas yang praktis, yang bisa langsung kamu pakai setelah baca ini.
Kenapa Editing Itu Penting Banget?
Karena tulisan pertama itu biasanya masih mentah.
Isinya:
Pengulangan.
Kalimat kepanjangan.
Ide loncat-loncat.
Emosi kebablasan.
Atau terlalu banyak penjelasan.
Editing itu bukan bikin tulisan kamu beda total.
Editing itu bikin tulisan kamu lebih jelas, lebih tajam, dan lebih enak dibaca.
Ibaratnya, menulis itu menuang adonan.
Editing itu memanggangnya sampai matang.
1. Pangkas Kata yang Nggak Perlu (Kill the Noise)
Kesalahan paling umum pemula: kebanyakan kata.
Contoh:
Dia merasa sangat sedih sekali ketika mendengar kabar tersebut.
Coba lihat, ada berapa kata yang sebenarnya bisa dipangkas?
Versi edit:
Dia sedih saat mendengar kabar itu.
Lebih pendek. Lebih bersih. Lebih kuat.
Biasakan tanya ke diri sendiri:
Kata ini penting nggak?
Kalau dihapus, maknanya berubah nggak?
Kalau nggak berubah, hapus.
Tulisan kuat itu bukan yang panjang. Tapi yang padat.
2. Hapus Pengulangan yang Nggak Disadari
Sering banget kita mengulang ide tanpa sadar.
Contoh:
Dia kecewa karena harapannya tidak sesuai kenyataan. Kenyataan yang terjadi memang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Isinya sama. Cuma diputar.
Versi edit:
Dia kecewa. Harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
Selesai. Nggak perlu dijelaskan dua kali.
Pembaca itu pintar.
Nggak perlu semua hal ditegaskan ulang.
3. Perbaiki Kalimat Kepanjangan
Kalimat panjang bukan berarti salah.
Tapi kalau terlalu panjang dan napasnya habis, pembaca bisa lelah.
Contoh:
Dia mencoba menjelaskan semuanya dengan suara pelan karena dia tahu kalau situasinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi dan semua orang mulai kehilangan kesabaran.
Coba pecah:
Dia mencoba menjelaskan semuanya dengan suara pelan.
Dia tahu situasinya sudah sulit dikendalikan. Semua orang mulai kehilangan kesabaran.
Lebih enak dibaca, kan?
Editing sering cuma soal memberi ruang bernapas.
4. Ganti Kata Umum dengan Kata yang Lebih Spesifik
Kata-kata seperti:
sangat
sekali
benar-benar
sesuatu
hal
Sering bikin tulisan terasa datar.
Contoh:
Dia sangat marah sekali.
Bandingkan dengan:
Tangannya gemetar saat dia menahan suara.
Yang kedua nggak pakai kata “marah”, tapi terasa lebih kuat.
Penulis seperti Tere Liye sering kuat di detail kecil yang spesifik. Bukan di kata yang dilebih-lebihkan.
Semakin spesifik, semakin hidup.
5. Cek Alur: Apakah Ide Mengalir?
Kadang tulisan bukan jelek. Cuma lompat-lompat.
Tanya ke diri sendiri:
Paragraf ini nyambung nggak ke sebelumnya?
Tiba-tiba pindah topik nggak?
Urutannya masuk akal nggak?
Kalau perlu, pindahkan paragraf.
Editing itu bukan cuma menghapus. Kadang cuma menggeser.
6. Hapus Bagian yang Terlalu Menggurui
Pemula sering tanpa sadar jadi “penceramah”.
Contoh:
Kita harus selalu bersikap sabar dalam segala hal karena kesabaran adalah kunci dari kehidupan yang bahagia.
Kalimat kayak gini terasa berat dan jauh.
Coba ubah jadi lebih manusiawi:
Aku dulu pikir sabar itu gampang. Sampai akhirnya diuji di situasi yang nggak pernah aku bayangkan.
Lebih dekat. Lebih jujur.
Editing juga soal nada.
7. Baca Keras-Keras
Ini trik simpel tapi ampuh.
Coba baca tulisan kamu dengan suara pelan.
Kalau kamu:
Tersandung.
Kehabisan napas.
Bingung sendiri.
Berarti ada yang perlu diperbaiki.
Tulisan yang enak dibaca biasanya juga enak didengar.
Banyak penulis dunia melakukan ini, termasuk Ernest Hemingway yang terkenal dengan kalimat sederhana dan tajam.
Kalimat sederhana sering lebih kuat daripada kalimat yang terlalu rumit.
8. Beri Jarak Sebelum Mengedit
Kalau baru selesai menulis, biasanya kamu masih terlalu dekat dengan tulisan itu.
Akibatnya:
Semua terasa bagus.
Atau semua terasa jelek.
Coba beri jarak:
1 jam.
Atau sehari kalau bisa.
Setelah itu baca lagi.
Biasanya kamu lebih objektif.
Editing butuh kepala dingin.
9. Fokus pada Satu Hal Sekali Edit
Jangan edit semuanya sekaligus.
Misalnya:
Putaran pertama: fokus hapus kata mubazir.
Putaran kedua: fokus alur.
Putaran ketiga: fokus tanda baca.
Kalau semuanya dikerjakan sekaligus, kamu bisa kewalahan.
Editing itu proses bertahap.
10. Berani Menghapus Bagian Favorit
Ini yang paling sakit.
Kadang ada satu kalimat yang kamu suka banget.
Tapi ternyata nggak cocok di konteks tulisan.
Kalau memang nggak mendukung isi, hapus.
Atau simpan di dokumen lain.
Penulis profesional pun sering membuang halaman penuh demi menjaga kualitas keseluruhan.
Ingat:
Tulisan yang bagus itu tentang keseluruhan, bukan satu kalimat keren.
Checklist Editing Cepat untuk Pemula
Sebelum kamu publish tulisan, cek ini:
Apakah ada kata yang bisa dipangkas?
Apakah ada pengulangan?
Apakah ada kalimat terlalu panjang?
Apakah alurnya jelas?
Apakah nadanya terasa natural?
Apakah ada bagian yang terlalu menjelaskan?
Kalau sebagian besar sudah beres, tulisan kamu sudah naik level.
Kenapa Editing Itu Bikin Kamu Naik Kelas?
Karena banyak orang bisa menulis.
Tapi nggak banyak yang mau mengedit.
Menulis itu menyenangkan.
Editing itu butuh kesabaran.
Dan justru di situlah kualitas dibentuk.
Tulisan pertama menunjukkan ide kamu.
Editing menunjukkan kedewasaan kamu sebagai penulis.
Penutup
Kalau kamu masih pemula, jangan minder kalau tulisan pertama terasa berantakan.
Itu normal.
Yang membedakan penulis yang berkembang dan yang berhenti adalah satu hal:
mau atau nggak memperbaiki tulisannya sendiri.
Mulai dari editing dasar ini dulu.
Nggak perlu langsung sempurna.
Karena tulisan yang baik bukan lahir dari bakat semata—
tapi dari keberanian untuk membaca ulang, menghapus, dan memperbaiki.
Dan percaya deh, semakin sering kamu edit,
semakin tajam insting menulis kamu.
Pelan-pelan, tapi pasti. ✍️

0 Komentar