Cara Membuat Tulisan Lebih Emosional dan Relatable (Biar Pembaca Ngerasa “Ini Gue Banget”)

 

Pernah baca tulisan yang bikin kamu berhenti sebentar?
Yang bikin kamu mikir,
“Lah, kok kayak lagi ngomongin hidup gue?”

Itu bukan kebetulan. Itu karena penulisnya berhasil bikin tulisannya emosional dan relatable.

Masalahnya, banyak orang salah kaprah. Mereka kira tulisan emosional itu harus lebay. Harus penuh kata puitis. Harus dramatis.

Padahal nggak.

Tulisan emosional itu bukan soal air mata.
Tapi soal kejujuran dan detail yang tepat.

Yuk kita bahas caranya, dengan versi yang nggak pasaran dan bisa langsung kamu praktikkan.


1. Jangan Kejar “Sedihnya”, Kejar “Manusianya”

Kesalahan paling umum:

“Aku mau bikin tulisan sedih.”

Akhirnya yang keluar malah maksa.

Contoh klise:

Hidup ini sangat kejam dan menyakitkan.

Oke… tapi pembaca nggak tahu harus merasakan apa.

Coba ubah fokusnya.
Bukan bikin tulisan sedih.
Tapi bikin tulisan tentang manusia yang lagi menghadapi sesuatu.

Misalnya:

Dia nggak nangis waktu ayahnya dimakamkan.
Dia nangis tiga hari kemudian, waktu nggak sengaja nemu pesan suara lama di HP.

Itu lebih manusiawi. Dan lebih ngena.

Emosi datang dari situasi yang nyata, bukan dari kata-kata dramatis.


2. Pakai Detail Kecil yang “Kok Gue Juga Gitu Ya?”

Relatable itu sering lahir dari hal kecil.

Bukan dari tragedi besar.
Bukan dari kisah luar biasa.
Tapi dari momen yang familiar.

Contoh:

Bukan:

Aku merasa sendirian.

Tapi:

Grup chat rame banget. Notifikasi bunyi terus. Tapi nggak ada satu pun yang benar-benar nanya kabar aku.

Nah. Itu beda.

Detail kecil bikin pembaca merasa,
“Gila, gue juga pernah.”


3. Tulis dari Luka yang Sudah Kamu Pahami

Kalau kamu lagi marah banget, biasanya tulisan kamu masih mentah.
Masih penuh emosi mentah yang susah diatur.

Tulisan yang emosional tapi kuat biasanya datang dari luka yang sudah kamu pahami. Bukan yang baru kejadian lima menit lalu.

Misalnya kamu pernah gagal.
Daripada nulis:

Aku hancur banget waktu itu.

Coba tulis:

Waktu itu aku pura-pura bilang, “Yaudah lah.”
Padahal malamnya aku scroll media sosial orang-orang yang berhasil dan diam-diam ngebandingin diri sendiri.

Itu jujur. Dan banyak orang pernah melakukan hal yang sama.

Kejujuran bikin tulisan terasa hidup.


4. Jangan Takut Terlihat “Nggak Keren”

Ini penting banget.

Tulisan jadi relatable justru saat kamu berani terlihat nggak sempurna.

Contoh:

  • Ngaku pernah iri.

  • Ngaku pernah insecure.

  • Ngaku pernah gengsi.

  • Ngaku pernah pura-pura kuat.

Kita semua pernah. Tapi jarang yang mau mengakuinya.

Dan ketika kamu menuliskannya, pembaca merasa ditemani.

Tulisan yang terlalu sempurna bikin jarak.
Tulisan yang jujur bikin kedekatan.


5. Gunakan Bahasa yang Natural, Bukan Menggurui

Kalau kamu ingin tulisan terasa dekat, jangan terdengar seperti guru.

Bandingin ini:

Kita harus selalu bersyukur dalam kondisi apa pun.

Dengan ini:

Kadang aku juga capek disuruh bersyukur terus. Soalnya ada hari-hari di mana rasanya ya memang berat aja.

Yang kedua terasa lebih manusiawi. Lebih sejajar.

Pembaca nggak suka digurui.
Mereka suka ditemani.


6. Pakai Teknik “Show, Don’t Tell” Secukupnya

Tulisan emosional itu kuat saat pembaca bisa membayangkan adegannya.

Misalnya:

Bukan:

Dia kecewa berat.

Tapi:

Dia baca pesannya tiga kali. Lalu cuma balas, “Oh, oke.”

Kalimat pendek kayak gitu sering lebih menyayat daripada paragraf panjang.

Kamu nggak perlu bilang “kecewa”.
Pembaca bisa merasakannya sendiri.


7. Anggap Kamu Lagi Cerita ke Satu Orang

Ini trik sederhana tapi ampuh.

Saat menulis, jangan bayangin kamu lagi ngomong ke ribuan orang.
Bayangin kamu lagi cerita ke satu teman yang kamu percaya.

Nada tulisan kamu otomatis berubah jadi lebih hangat.

Misalnya:

Bukan:

Banyak orang mengalami quarter life crisis.

Tapi:

Pernah nggak sih kamu ngerasa umur segini tapi hidup kayak belum ke mana-mana?

Langsung terasa lebih dekat, kan?


8. Sisakan Ruang untuk Pembaca

Tulisan yang terlalu menjelaskan semuanya malah terasa berat.

Kadang, kamu cukup berhenti di satu adegan.

Contoh:

Dia akhirnya hapus fotonya.
Bukan karena sudah nggak sayang.
Tapi karena capek berharap.

Stop.

Nggak perlu penjelasan panjang lagi.

Biarkan pembaca mengisi sisanya dengan pengalaman mereka sendiri.

Tulisan yang relatable itu memberi ruang bagi pembaca untuk masuk.


9. Ambil Emosi Universal

Kalau kamu bingung mulai dari mana, pakai emosi yang hampir semua orang pernah rasakan:

  • Takut gagal

  • Takut ditinggal

  • Insecure

  • Cemburu

  • Kehilangan

  • Harapan yang nggak kesampaian

  • Merasa tertinggal

Bahkan penulis-penulis besar seperti Dee Lestari atau Tere Liye sering mengangkat tema sederhana: kehilangan, cinta, pencarian diri.

Yang bikin kuat bukan temanya.
Tapi cara menyampaikannya.


10. Tanyakan Ini Sebelum Publish

Sebelum kamu selesai, coba tanya:

  • Apakah ini jujur?

  • Apakah ini terasa seperti manusia, bukan kutipan motivasi?

  • Apakah ada satu bagian yang benar-benar spesifik?

  • Apakah aku terlalu menggurui?

Kalau jawabannya sudah oke, kemungkinan besar tulisan kamu sudah punya rasa.


Kenapa Tulisan Emosional Itu Penting?

Karena orang mungkin lupa data.
Orang mungkin lupa teori.
Tapi orang jarang lupa perasaan yang pernah mereka rasakan saat membaca sesuatu.

Tulisan yang emosional dan relatable itu bukan soal viral.
Tapi soal koneksi.

Dan di zaman di mana semua orang bicara, koneksi itu mahal.


Penutup

Kalau kamu ingin tulisan lebih emosional dan relatable, jangan mulai dari:

“Gimana caranya biar orang terharu?”

Mulailah dari:

“Apa yang pernah aku rasakan tapi jarang aku akui?”

Di situlah biasanya tulisan yang paling kuat lahir.

Bukan dari kalimat yang indah.
Tapi dari keberanian untuk jujur.

Dan percaya deh—
ketika kamu jujur dengan pengalaman kamu sendiri,
pasti ada satu orang di luar sana yang membaca dan berpikir,

“Gue banget.” ✍️

Posting Komentar

0 Komentar