Pernah nggak kamu baca tulisan yang begini:
Dia sedih banget.
Selesai. Titik.
Kita ngerti maksudnya. Tapi… kita nggak merasakan apa-apa.
Sekarang bandingin sama ini:
Dia duduk lama di pinggir kasur. Chat terakhir itu masih terbuka. Layarnya redup, tapi dia belum berani menghapusnya.
Nah. Tanpa kata “sedih”, kamu tahu dia lagi sedih. Bahkan mungkin ikut nyesek.
Itulah inti dari teknik Show, Don’t Tell.
Banyak yang ngomongin teknik ini, tapi seringnya penjelasannya terlalu teoritis. Sekarang kita bahas versi yang lebih membumi, lebih sehari-hari, dan bisa langsung kamu praktikkan.
Sebenarnya Apa Itu Show, Don’t Tell?
Simpelnya:
Tell = kamu kasih tahu pembaca apa yang terjadi.
Show = kamu memperlihatkan lewat tindakan, detail, dan situasi.
Tell itu seperti laporan.
Show itu seperti adegan.
Tell itu cepat.
Show itu hidup.
Dan tulisan yang hidup biasanya lebih nempel di kepala.
Kenapa Banyak Pemula Sering “Tell”?
Karena lebih gampang.
Bandingin dua kalimat ini:
Tell:
Dia marah besar.
Show:
Tangannya gemetar saat menaruh gelas di meja. Suaranya rendah, tapi setiap kata terdengar seperti ditahan paksa.
Yang pertama selesai dalam 3 detik.
Yang kedua butuh mikir sedikit.
Sebagai penulis, kita sering pengen cepat. Jadi tanpa sadar kita memilih jalan pintas: memberi label emosi, bukan menggambarkannya.
Padahal pembaca lebih suka mengalami, bukan diberi tahu.
Cara Praktis Mengubah “Tell” Jadi “Show”
Sekarang kita masuk ke teknik yang bisa langsung kamu pakai.
1. Ganti Kata Emosi dengan Reaksi Tubuh
Kalau kamu menulis:
Dia gugup.
Coba tanya:
Kalau orang gugup, biasanya ngapain?
Keringat dingin?
Salah ngomong?
Ngetuk-ngetuk meja?
Tatapan nggak fokus?
Contoh perubahan:
Tell:
Dia gugup saat presentasi.
Show:
Slide ketiga belum selesai, tapi dia sudah mengusap tangan ke celana berkali-kali. Kata-katanya sempat terselip sebelum akhirnya dia menarik napas panjang.
Nggak ada kata “gugup”, tapi kita tahu dia gugup.
2. Gunakan Detail Kecil yang Spesifik
Tulisan terasa hidup kalau ada detail kecil yang nyata.
Misalnya:
Tell:
Rumah itu berantakan.
Show:
Piring kotor menumpuk di wastafel. Kaos kaki tergeletak di bawah meja, dan bungkus mi instan masih terbuka di samping kompor.
Detail kecil bikin pembaca bisa “melihat” adegannya.
Rahasia pentingnya:
Semakin spesifik, semakin terasa nyata.
3. Biarkan Dialog Bicara
Kadang kamu nggak perlu menjelaskan perasaan karakter. Biarkan dialog yang bekerja.
Tell:
Dia kecewa dengan sahabatnya.
Show:
“Oh… jadi kamu udah tahu dari kemarin?”
Dia tersenyum tipis. “Nggak apa-apa kok. Santai.”
Kita tahu itu bukan “nggak apa-apa” yang sebenarnya.
Dialog sering lebih kuat daripada narasi penjelasan.
4. Gunakan Lingkungan untuk Memperkuat Suasana
Emosi nggak selalu harus dijelaskan langsung. Kadang suasana sekitar bisa membantu.
Misalnya kamu mau menunjukkan kesepian.
Tell:
Malam itu terasa sepi.
Show:
Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya. Lampu ruang tamu masih menyala, tapi tidak ada suara lain selain angin yang menyentuh tirai.
Lingkungan jadi alat bantu emosi.
5. Kurangi Kata-Kata “Penjelas”
Beberapa kata ini sering jadi tanda kamu lagi “tell”:
merasa
berpikir
tahu bahwa
menyadari
sangat
benar-benar
Contoh:
Tell:
Dia merasa sangat bahagia.
Coba ubah:
Dia tertawa sampai matanya berair. Bahkan setelah telepon ditutup, senyumnya belum juga hilang.
Lebih terasa, kan?
Tapi… Apakah Harus Selalu Show?
Jawabannya: nggak.
Ini yang jarang dibahas.
Kalau semua bagian kamu “show”, tulisan bisa jadi capek dan kepanjangan.
Bayangin kamu harus menggambarkan setiap detail kecil. Pembaca bisa lelah.
Show itu dipakai untuk:
Momen penting.
Emosi kuat.
Adegan klimaks.
Konflik.
Untuk bagian transisi atau informasi biasa, “tell” itu sah-sah aja.
Menulis itu soal keseimbangan.
Latihan Simpel Biar Makin Jago
Kalau kamu mau latihan, coba ini:
Ambil kalimat berikut:
Dia orang yang sombong.
Sekarang ubah jadi adegan.
Contoh:
Saat namanya dipanggil, dia berdiri paling akhir. Tatapannya sekilas menyapu ruangan sebelum akhirnya berkata, “Ya, memang biasanya saya yang paling siap.”
Tanpa bilang “sombong”, pembaca bisa menilai sendiri.
Latihan seperti ini bikin insting kamu makin tajam.
Kesalahan Umum Saat Mencoba Show, Don’t Tell
Biar nggak salah arah, hindari ini:
1. Terlalu Berlebihan
Jangan semua gerakan dijelaskan detail banget.
Nanti malah terasa dibuat-buat.
2. Terlalu Puitis Sampai Bingung
Show bukan berarti harus pakai metafora ribet.
Kalimat simpel tapi jelas jauh lebih kuat daripada kalimat indah tapi membingungkan.
3. Menjelaskan Ulang Setelah Show
Ini sering banget terjadi.
Contoh:
Dia membanting pintu sampai kaca jendela bergetar. Dia benar-benar marah.
Kalimat kedua sebenarnya nggak perlu.
Pembaca sudah tahu dia marah.
Percayalah pada pembaca.
Kenapa Teknik Ini Penting?
Karena pembaca nggak cuma mau tahu cerita.
Mereka mau merasakannya.
Teknik Show, Don’t Tell bikin tulisan:
Lebih hidup
Lebih sinematik
Lebih emosional
Lebih membekas
Tulisan yang cuma “tell” sering terasa seperti laporan.
Tulisan yang “show” terasa seperti pengalaman.
Dan pengalaman selalu lebih diingat daripada penjelasan.
Penutup: Jangan Terlalu Kaku
Ingat, teknik ini alat. Bukan aturan sakral.
Kadang kamu boleh langsung bilang:
Dia lelah.
Nggak dosa.
Tapi saat kamu ingin pembaca ikut merasakan lelah itu, ikut terdiam, ikut menahan napas—di situlah kamu pakai “show”.
Menulis itu bukan soal terlihat pintar.
Menulis itu soal membuat orang lain ikut masuk ke dalam dunia yang kamu buat.
Dan dunia yang bisa dirasakan selalu lebih kuat daripada dunia yang cuma dijelaskan.
Sekarang coba buka tulisan lama kamu.
Cari satu kalimat “tell”.
Ubah jadi “show”.
Pelan-pelan saja.
Karena jadi penulis yang lebih hidup bukan soal bakat—
tapi soal latihan dan keberanian untuk memperlihatkan, bukan sekadar memberitahu. ✍️

0 Komentar