Cara Menulis Tanpa Menunggu Mood (Biar Nggak Jadi Wacana Terus)

 


“Lagi nggak mood nulis.”
Kalimat ini kelihatannya sepele, tapi diam-diam jadi alasan paling sering kenapa banyak orang berhenti sebelum mulai.

Masalahnya, kalau kamu nunggu mood, kamu bisa nunggu lama banget. Mood itu kayak tamu tak diundang—kadang datang, kadang nggak. Sementara tulisan nggak akan jadi kalau kamu cuma nungguin perasaan enak dulu.

Kabar baiknya: menulis itu nggak harus pakai mood. Yang kamu butuhin itu sistem dan kebiasaan.

Yuk kita bahas pelan-pelan, dengan bahasa santai, gimana caranya tetap nulis walaupun lagi males, capek, atau nggak terinspirasi.


1. Pahami Dulu: Mood Itu Bonus, Bukan Syarat

Banyak orang salah kaprah. Mereka mikir:

“Kalau lagi semangat, tulisanku pasti bagus.”

Belum tentu.

Justru seringnya, tulisan yang jadi itu bukan karena mood bagus, tapi karena kita duduk dan mulai nulis aja dulu.

Penulis-penulis besar dunia juga nggak selalu nulis dalam keadaan terinspirasi. Contohnya Haruki Murakami. Dia dikenal disiplin banget. Bangun pagi, nulis beberapa jam, hampir setiap hari. Bukan nunggu ilham turun dari langit.

Artinya apa?
Menulis itu lebih mirip olahraga daripada sulap. Butuh latihan rutin, bukan keajaiban.


2. Turunin Standar di Awal

Salah satu penyebab kita nunggu mood adalah karena kita pengen tulisan langsung bagus.

Padahal, tulisan pertama itu tugasnya cuma satu: jadi dulu.

Coba ubah pola pikir:

Bukan:

“Aku harus nulis yang keren hari ini.”

Tapi:

“Aku cuma perlu nulis yang jelek dulu hari ini.”

Aneh? Iya. Tapi ampuh.

Karena begitu kamu kasih izin diri kamu buat nulis jelek, tekanan hilang. Dan seringnya, justru dari situ muncul ide bagus.


3. Pakai Aturan 5 Menit

Kalau 30 menit terasa berat, mulai dari 5 menit.

Set timer.
Janji ke diri sendiri:

“Aku cuma nulis 5 menit, habis itu boleh berhenti.”

Biasanya yang terjadi malah kebalikannya.
Begitu mulai, kamu keterusan.

Yang susah itu bukan menulisnya.
Yang susah itu mulainya.


4. Jangan Nunggu Ide Besar

Sering banget kita nunda nulis karena merasa belum punya ide yang “wah”.

Padahal kamu bisa nulis tentang:

  • Hari yang membosankan.

  • Perasaan lagi capek.

  • Obrolan receh tadi siang.

  • Kenangan kecil yang tiba-tiba keinget.

Penulis seperti Raditya Dika justru terkenal karena mengangkat hal-hal sederhana jadi menarik.

Intinya bukan di topiknya.
Tapi di cara kamu bercerita.


5. Bikin Ritual Kecil Sebelum Nulis

Supaya nggak tergantung mood, kamu bisa bikin “ritual pemicu”.

Misalnya:

  • Selalu nulis sambil minum kopi atau teh.

  • Putar playlist yang sama.

  • Duduk di tempat tertentu.

  • Pakai jam yang sama tiap hari.

Otak kita suka pola.
Kalau kamu konsisten, lama-lama tubuh dan pikiran kamu otomatis “siap nulis” saat ritual itu dimulai.


6. Pisahkan Menulis dan Mengedit

Ini kesalahan paling umum.

Baru nulis satu kalimat, langsung dihapus.
Baru nulis satu paragraf, langsung diedit.

Akhirnya capek sendiri.

Solusinya:
Saat nulis → fokus mengalir.
Saat edit → fokus merapikan.

Dua proses ini beda. Jangan dicampur.

Kalau kamu lagi nggak mood, biasanya itu karena kamu terlalu banyak menghakimi tulisan sendiri saat proses menulis.


7. Jadikan Menulis Sebagai Tugas, Bukan Perasaan

Coba anggap menulis seperti mandi atau makan.

Kamu nggak nunggu mood buat mandi, kan?
Kamu mandi karena itu perlu.

Begitu juga menulis.

Kalau kamu ingin berkembang, jadikan menulis sebagai jadwal. Bukan pilihan tergantung perasaan.


8. Tulis Tentang Apa yang Kamu Rasakan Saat Ini

Ironisnya, saat kamu bilang “lagi nggak mood”, itu sebenarnya sudah jadi bahan tulisan.

Coba tulis:

  • Kenapa kamu lagi nggak mood?

  • Capek karena apa?

  • Lagi overthinking soal apa?

  • Lagi kecewa sama siapa?

Tulisan yang jujur sering jauh lebih kuat daripada tulisan yang dipaksakan terlihat keren.


9. Kurangi Distraksi

Kadang kita merasa nggak mood, padahal sebenarnya kita terdistraksi.

Baru duduk mau nulis:

  • Cek notifikasi.

  • Scroll media sosial.

  • Balas chat.

  • Lihat video.

Akhirnya 30 menit hilang.

Coba:

  • Aktifkan mode pesawat.

  • Jauhkan HP.

  • Tutup tab yang nggak perlu.

Mood sering kalah sama notifikasi.


10. Terima Bahwa Nggak Semua Hari Produktif

Ini penting.

Ada hari di mana tulisan kamu lancar banget.
Ada hari di mana rasanya berat.

Itu normal.

Yang bikin orang berkembang bukan karena selalu semangat, tapi karena tetap jalan walaupun lagi biasa aja.

Penulis seperti Dee Lestari juga pasti punya hari-hari sulit. Tapi yang membedakan adalah mereka tetap kembali ke meja kerja.


11. Fokus ke Proses, Bukan Hasil

Kalau kamu terlalu fokus ke:

  • Harus viral.

  • Harus banyak yang baca.

  • Harus dapat pujian.

Kamu bakal cepat kehilangan motivasi.

Tapi kalau fokus kamu adalah:

“Hari ini aku berhasil nulis 300 kata.”

Itu sudah kemenangan.

Menulis itu maraton, bukan sprint.


12. Buat Target Kecil dan Realistis

Jangan langsung target:

  • 3000 kata sehari.

  • Satu buku sebulan.

Mulai dari:

  • 200–500 kata.

  • 15–30 menit.

  • 1 halaman.

Target kecil lebih mudah konsisten. Dan konsistensi jauh lebih penting daripada ambisi besar yang cuma bertahan seminggu.


Jadi, Apa Rahasianya?

Rahasia menulis tanpa menunggu mood itu bukan motivasi besar.

Tapi ini:

  • Turunkan standar.

  • Mulai kecil.

  • Lakukan rutin.

  • Jangan banyak mikir.

  • Selesaikan dulu, perbaiki nanti.

Mood itu kadang datang di tengah proses.
Bukan di awal.

Seringnya, setelah 10 menit nulis, kamu baru merasa:

“Eh, ternyata bisa juga.”


Penutup

Kalau kamu terus nunggu mood, kamu akan terus punya alasan.

Tapi kalau kamu mulai walaupun lagi nggak mood, kamu sedang membangun disiplin.

Dan di dunia menulis, disiplin selalu menang dari inspirasi sesaat.

Jadi mulai hari ini, jangan tanya:

“Aku lagi mood nggak?”

Tanya aja:

“Aku mau mulai sekarang, atau 6 bulan lagi masih dengan alasan yang sama?”

Pilihan ada di kamu. ✍️

Posting Komentar

0 Komentar